| Pencak
Silat, Upaya Menepis "Wajah Kampungan"
PENCAK silat masih dianggap merupakan seni bela diri produk "Melayu"
yang kalah pamor dibanding seni bela diri impor lainnya? Ketua Persilat (Persekutuan
Silat Antarbangsa), Eddie M Nalapraya mengakui hal itu. Ditegaskan salah satu
program utama dari IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia) adalah terus
menerus memasyarakatkan pencak silat agar tak lagi dianggap sebagai seni bela
diri yang berkelas "kampungan".
"Orang Jepang sangat bangga dengan seni bela
dirinya, sementara kita
malu untuk membanggakan seni bela diri warisan leluhur ini. Belum lagi adanya
egoisme perguruan sehingga sempat terjadi gontok-gontokan antarperguruan silat.
Tak heran, akhirnya istilah pencak silat terkesan 'kampungan', dan ini yang
terus-menerus kita kikis habis," ujar Eddie, usai terpilih kembali sebagai
Ketua Persilat dalam kongresnya yang berlangsung akhir bulan April lalu di
Jakarta.
Pencak silat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai
Pustaka berarti, permain-an (keahlian) dalam mempertahankan diri dengan
kepandaian menangkis, mengelak, dan sebagainya. Silat diartikan sebagai olahraga
(permainan) yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan
atau tanpa senjata.
Bersilat adalah bermain (atau berkelahi) dengan menggunakan ketangkasan
menyerang dan mempertahankan diri. Sedangkan pencak silat bermakna, kepandaian
bertarung dalam pertandingan (atau perkelahian) seni bela diri khas Indonesia.
***
DALAM arti sesungguhnya, disepakati ada empat aspek yang terkandung dalam
pencak silat. Yaitu sarana pembinaan mental spiritual, bela diri, olahraga, dan
seni. Seperti tercermin dalam lambang trisula, di mana ketiga ujungnya
mencerminkan unsur seni, bela diri dan olahraga, sementara gagangnya diyakini
melambangkan mental spiritual.
Sebagai seni, pencak silat merupakan wujud perilaku budaya suatu
kelompok,
yang di dalamnya terkandung unsur adat, tradisi, hingga filsafat. Hal itu
menjadi penyebab perbedaan gerakan silat antara suatu daerah dengan daerah
lainnya di Tanah Air ini. Demikian pula dengan jenis musik yang meng-iringi
gerakan-gerakan silat yang seperti tarian lemah gemulai tersebut.
Sebagai olahraga, dalam perkembangannya pencak silat melangkah menjadi suatu
jenis 'gerak badan', senam atau jurus yang dapat dipertandingkan.
Perkembangannya kian pesat, setelah disepakatinya suatu aturan pertandingan
olahraga pencak silat, seperti kelas peserta, luas arena, dewan pendekar, dewan
hakim, ketua pertandingan, dewan wasit dan juri, la-manya pertandingan setiap
ba-baknya, seragam pertandingan dan sebagainya.
Sebagai bela diri, pencak silat memang tumbuh berawal dari naluri manusia
untuk melakukan pembelaan terhadap se-rangan fisik yang menghampirinya.
Seseorang yang menguasai pencak silat (pendekar) diharapkan mampu melindungi
diri dari setiap serangan, atau bah-kan bisa mendahului menyerang untuk
menghindari 'kerusakan' yang lebih besar.
Seorang pendekar mampu mengembangkan daya tempurnya, sehingga dalam tempo
singkat berhasil memenangkan pertarungan. Berarti, dia harus memiliki kemampuan
mengatur siasat/strategi bertempur (dalam bahasa Jawa, gelar), baik saat
satu lawan satu, atau dikeroyok beberapa orang lawan.
Sebagai pembinaan mental spiritual atau olah batin, lebih banyak ditujukan
untuk membentuk sikap dan watak kepribadian. Faktor ajaran agama yang menyertai
latihan pencak silat, biasanya berperan besar untuk mengembangkan fungsi ini.
Sulit ditunjukkan secara eksplisit produk dari pembinaan mental spiritual
tersebut, namun banyak atraksi yang dipamerkan seperti permainan debus,
penyembuhan spiritual, serta demonstrasi tenaga dalam, yang merupakan wujud dari
keberhasilan latihan olah batin itu.
Seperti peranan "gagang" pada trisula yang sangat vital, maka
unsur-unsur yang ada dalam pencak silat (seni, bela diri, dan olahraga) harus
dilandasi mental spiritual yang baik. Seperti dituturkan pesilat "Persauda-raan
Setia Hati", Murhananto, "Sebagai seni budaya Bangsa yang berlandaskan
Pancasila, pencak silat harus berlandaskan kepercayaan terhadap ke-Esaan Sang
Pencipta".
***
MASALAHNYA saat ini sudah sulit ditemukan pesilat yang menguasai ilmu pencak
silat secara utuh, yakni menguasai unsur seni, olahraga, tempur dan olah batin.
Hal ini harus diakui karena kondisi di masa lampau, di mana pencak silat masih
dipenuhi hal-hal yang tabu dan ada larangan tak tertulis untuk "membuka
diri" bagi anggota suatu perguruan. Ini membuat sebagian besar
pendekar-pendekar lebih memilih "menutup diri" dibandingkan secara
transparan mengajarkan ilmunya ke orang lain. Para pendekar itu bahkan tak
peduli jika mereka seolah-olah berada di luar struktur kemasyarakatan.
Salah seorang Pewaris 18 Guo Perkumpulan Bangau Putih, R. Suhardi Adimarjono
alias Hardi pernah melontarkan, ibarat ilmu sains, maka pencak silat sebagai
ilmu akan kian tersumbat (mati) jika tak terus-menerus diajarkan kepada orang
lain. "Seperti dalam doktrin perguruan kami, ilmu harus dikembalikan kepada
alam dan kebudayaan. Sebab jika tak mengalir (disumbat), ilmu itu akan kian
rontok dan kian hari kemampuan murid-murid yang mempelajarinya hanya semakin
pas-pasan saja," ujar pelukis ternama ini.
Dampak buruk dari "ketertutupan" pendekar itu, ujar
Hardi, adalah
munculnya perguruan baru secara diam-diam dari orang-orang yang pernah diajari
si pendekar itu. Dia memberi contoh, fenomena silat Cimande. Menurutnya, saat
ini sangat sulit untuk mencari siapa guru besar dari aliran silat Cimande
tersebut, padahal banyak perguruan yang menggunakan elemen-elemen gerakan silat
Cimande dalam setiap gerakan yang diajarkannya.
Makin lama keaslian gerakan pencak silat itu makin
luntur, sehingga kian
banyak pesilat yang hanya menguasai unsur olahraga semata. Gerakannya semakin
tak ubahnya dengan pendekar dari seni bela diri yang lain. Contohnya, tendangan
"T" (lurus ke samping) dan acung (lurus ke depan) di pencak
silat mirip dengan keikome geri dan mae geri di karate.
Secara kasat mata memang masih ada perbedaan, yakni di pencak silat
didominasi gerakan mirip tarian, sementara pada bela diri yang lain dominan
dengan gerakan keras sejak awal hingga selesai. Hal itu masih ditambah teriakan
keras (di karate disebut kiai), yang di pencak silat tak begitu akrab
dilakukan.
Makin lama, perguruan-perguruan pencak silat lebih banyak mementingkan
pembinaan unsur olahraga. Lebih banyak menekankan faktor ke-atletan pesilatnya,
yakni pesilat usia muda yang didukung tenaga yang besar, sehingga mampu memukul
atau menjatuhkan lawan dengan KO (knock out). Karenanya, Penngurus Daerah
IPSI di seluruh Tanah Air harus tak bosan-bosannya mengingatkan perguruan pencak
silat, untuk mengawasi pesilatnya agar tak sedikit pun meninggalkan "napas"
atau ciri khas pencak silat dalam setiap gerakannya.
Secara ringkas ada tiga prinsip teknis olahraga pencak
silat, yakni teknik
sambut serangan, penerapan teknik tinggi untuk meraih nilai penuh, serta selalu
menggunakan kaidah-kaidah silat. Teknik dan taktik sambut serangan, yakni
tindakan saat "menerima" serangan lawan, dengan menangkis, menghindar,
mengelak dan kemudian membalas menyerang.
Sedangkan penerapan teknik tinggi adalah penerapan teknik sulit atau yang
mengandung risiko tinggi, namun dengan imbalan nilai maskimal jika berhasil
melakukannya. Misalnya, teknik menjatuhkan dan mengunci.
Hal penting yang tak boleh diabaikan oleh pesilat mana pun adalah mengenai
kaidah-kaidah dalam pertarungan silat. Yakni bermula dari sikap "pasang"
(siap tempur) sebagai sikap taktik sebelum bertanding, kemudian melangkah dengan
terpola, serta koordinasi yang baik dalam melakukan tangkisan atau serangan.
Setiap usai serangan atau tangkisan yang dilakukan dalam beberapa gerakan
beruntun, pesilat harus kembali dalam sikap "pasang" tersebut.
Dalam setiap gerakan pencak silat (sebagai olahraga), unsur-unsur seni dan
bela diri tentu harus tercermin. Sedangkan aspek pembinaan mental spiritual
sudah terimplementasi di dalamnya. Misalnya, walau tak ada peraturan tertulis,
namun seorang pesilat dilarang menyerang lawan yang sedang mengembangkan
kaidah-kaidah perguruannya.
Jika kekhasan gerakan silat itu terus dipertahankan oleh siapa pun orang
berkiprah di dunia silat, bahkan kemudian membakukannya, maka pencak silat
semakin kukuh menjadi salah satu bentuk identitas budaya Indonesia. Sebagai seni
bela diri, dia berdiri sendiri dan tak kalah tangguh dibanding seni bela diri
mana pun, sehingga "wajah kampungan" di pencak silat bisa dicuci
bersih.
Seumber kompas
Kembali
|