Beri Nilai Situs Kami
@
SearchIndonesia

 
Pencak Silat akan ke Asian Games

BEBERAPA tahun lalu masih sangat sulit mencari figur yang bersedia memimpin PB IPSI (Ikatan Pencak silat Seluruh Indonesia). Waktu itu pencak silat masih identik dengan olahraga bela diri "kelas dua" dibanding bela diri impor seperti karate, judo, dan taekweondo.

Sekarang pencak silat melesat hingga ke mancanegara. Tak hanya sejak tahun 1987 sudah dipertandingkan di SEA Games, tapi juga sudah menggelar kejuaraan dunia sejak tahun 1990. Pesertanya tak tanggung-tanggung, selalu datang dari empat benua.

Sudah menduniakah pencak silat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menarik menyimak bincang-bincang Kompas dengan Ketua Umum PB IPSI yang sekaligus juga merupakan Presiden Persilat (Persekutuan Silat Antarbangsa), Eddie M. Nalapraya berikut ini.

Kompas: Saat ini masih layakkah pencak silat disebut bela diri kampungan?

Eddie Nalapraya: Jika masih ada yang menyebut pencak silat itu kampungan, rasanya orang itu perlu diajak 'diskusi' yang panjang. Kita ingin tahu berdasarkan apa dia mengklaim pencak silat itu olahraga kampungan.

Kalau bela diri ini disebut berasal dari kampung, itu benar. Jangankan pencak silat, kita ini saja semuanya berasal dari kampung. Tapi kalau disebut kampungan nanti dulu, mari kita kaji dalam-dalam sebelum memberi sebutan itu. Sebab, bagaimana dengan semakin besarnya antusias negara-negara "yang tak kampungan" seperti AS dan Eropa untuk mempelajarinya? Mereka bahkan sudah bisa beraksi dengan hebatnya pada setiap kejuaraan dunia.

Contoh lain, saksikan sendiri pada peresmian Padepokan Pencak Silat di Pondok Gede, tanggal 20 April mendatang oleh bapak Presiden Soeharto. Di situ akan hadir dengan biaya sendiri, puluhan anggota Persilat dari berbagai pelosok dunia. Tak hanya dari AS dan Eropa saja, tapi juga dari Jepang, Korea Selatan, dan Cina yang dikenal sebagai gudangnya bela diri di kawasan Asia ini. Apa yang datang itu orang-orang kampungan, sehingga mau mendalami bela diri kampungan?

Jangan lupa, dengan mempelajari pencak silat seseorang tak hanya akan andal secara fisik semata. Tapi juga secara mental-rohani yang menciptakan sosok pribadi yang berbudi luhur. Tak berlebihan, kontribusi pencak silat dalam membantu terciptanya wawasan ketahanan nasional di generasi muda sangat besar.

Hal ini pula yang membuat saya berjuang habis-habisan selama empat periode bersama anggota pengurus lainnya di silat ini. Pencak silat salah satu sarana yang menbuat budaya Bangsa kita ini dikenal dan dihargai negara lain. Karenanya, pertanyaannya sekarang? Kalau orang-orang modern yang tak kampungan saja dari negeri lain sangat mencintai pencak silat, mengapa sebagian dari masyarakat kita sendiri tidak?

Bagaimana nasib pencak silat di SEAG?

Untuk SEAG rasanya pencak silat berpeluang secara konsisten dipertandingkan, terutama karena kemajuan pesat atlet silat di kawasan Asia Tenggara di luar Indonesia. Memang sudah menjadi kebijakan kita untuk 'menghidupkan' pencak silat di luar "negara serumpun" (Malaysia, Brunei dan Singapura), misalnya di Thailand dan Vietnam.

Untuk pengembangan di Kamboja, rasanya masih dibutuhkan kesabaran karena faktor 'keamanan dalam negeri' yang masih melilit negeri itu. Soal pengembangannya, mengapa harus ragu, kita bahkan senantiasa berupaya agar dipertandingkan juga di Asian Games. Kalau karate, judo, taekwondo bisa, mengapa pencak silat tidak?

Bagaimana antisipasi tentang pesatnya kemajuan negara lain, setelah ditangani pelatih andal asal Indonesia yang dikirimkan PB IPSI sendiri?

Itu konsekuensi yang harus kita hadapi, jika ingin melihat silat itu berkembang pesat ke mancanegara. Lihat saja, banyak juara dunia karate bukan orang Jepang atau juara dunia taekwondo tak lagi melulu dari Korea. Kita memang sudah mengantisipasi hal itu.

Karena itu pula kita dirikan dengan sekuat tenaga Padepokan Pencak silat di Pondok Gede itu. Padepokan itu akan menjadi pusat informasi dan komunikasi pencak silat seluruh dunia, juga sekaligus menjadi labotarium atau pusat pengembangan pencak silat baik dari segi teknis maupun nonteknis.

Misalnya saat ini sedang bekerja tim pembakuan istilah-istilah pencak silat, agar ratusan perguruan di Tanah Air bisa "satu bahasa". Terutama dalam soal ketentuan peraturan pertandingan. Lalu secara perlahan tapi pasti, kita mulai menyeragamkan gerakan-gerakan teknis, seperti mulai diberlakukannya pertandingan wiraloka (jurus seni yang wajib) yang terdiri dari 12 jurus dan 90 gerakan itu.

Proses ini menang tak mudah, terutama karena banyaknya aliran perguruan pencak silat itu. "Bengkel kerja" yang mulai dengan gencar bekerja sejak dua tahun lalu itu, secara periodik mengumpulkan pakar-pakar perguruan urun rembuk, lalu hasil pertemuan itu disebarkan ke daerah-daerah untuk memperoleh masukan-masukan.

Karenanya, mudah-mudahan obsesi kita melihat pencak silat sejajar dengan bela diri lainnya bisa terwujud. Hanya saja jangan lupa, cita-cita luhur itu takkan pernah terwujud jika hanya mengandalkan segelintir manusia saja. Pencak silat ini milik Bangsa, mari kita bahu-membahu membangunnya.

 

Seumber kompas

Kembali

Artikel Lain

Sejarah Pencak Silat di Jawa Barat

"Menjual" Pencak Silat ke Mancanegara

Tantangan untuk Membuat Pencak Silat Mendunia

Pencak Silat, Upaya Menepis "Wajah Kampungan"

Jabar Berjaya di Pencak Silat

 

Free Web Hosting by Netfirms
Web Hosting by Netfirms | Free Domain Names by Netfirms

Pencak Silat
Bagai mana menurut anda perkembangan pencak silat dewasa ini

Berkembang dengan pesat
Kurang berkembang
Kalah dengan beladiri lain
Memprihatinkan
Tidak perduli


Current Results

| Guru Besar |Sejarah Singkat | Arti Lambang |Atlet Berprestasi |

| Unit Latihan | Link | Galeri | Prestasi Perguruan |

| Download | E-mail Gratis |